Assalamualaikum,
Udah lama banget gak buka blog dan gak ngepost hehehe maklum baru ada niat lagi :D
mau share ini ada kisah bagus Cek It Dot yaa :D
JERRY D Gray, penulis sejumlah buku laris, ternyata seorang
mualaf yang sangat mencintai Indonesia dengan mengurus naturalisasinya dari
warga AS ke WNI, menikah dengan orang Indonesia dan menetap di
Jakarta.
Ia pernah tampil di sebuah televisi swasta bersama Ust. Yusuf
Mansyur dan sekarang menjadi seseorang yang mempraktikkan thibbun Nabawi. Ada
yang menarik yang ia ucapkan ketika itu. “Jika sakit,” ujarnya kepada Ust Yusuf
Mansyur, “Saya selalu mengatakan, ‘Ya Allah, sakit ini datangnya atas izinmu,
maka izinkan pula sakit ini sembuh'”.
“Bagi saya Indonesia itu ibarat
surga. Saya sudah melancong ke banyak negara dan di sini saya mendapatkan
kedamaian bergaul dan berinteraksi sosial dengan komunitas Muslim terbesar di
dunia,” ujar Jerry.
Beristrikan seorang perempuan Tasikmalaya dan
dikaruniai seorang anak laki, Jerry menyatakan memiliki banyak kegiatan di
Indonesia yang membuat dia makin betah yaitu memberikan pengajian, berbagi
pengalaman dan menulis buku.
Tidak banyak orang yang menyangka Jerry D.
Gray, warga AS yang pernah menjadi prajurit angkatan udara negara adidaya itu,
ternyata seorang mualaf yang tekun beribadah.
Jerry mengatakan,
menjalankan ajaran Islam secara kaffah sebagaimana diajarkan dalam kitab suci
Al`Quran. Semua itu baru terlaksana setelah berproses dalam waktu cukup
lama.
Bagi penulis sejumlah buku di antaranya “Deadly Mist”, “Demokrasi
Barbar ala AS` dan “Dosa-dosa Media Amerika” itu, ketertarikan terhadap Islam
dimulai justru dari tanah Arab tempat ajaran Islam itu sendiri pertama kali
diturunkan kepada Rasul Allah SWT.
Sebagai AU yang ditugaskan di Arab
Saudi, ia melihat betapa khusyuk dan ikhlasnya orang menjalankan shalat hingga
mau meninggalkan segala aktivitas mereka termasuk berkaitan dengan uang
sekalipun.
“Ketika mengalun suara adzan, dipinggir jalan orang pada
shalat, karyawan toko dan mall semua shalat dan barang dibiarkan begitu saja
namun tidak ada yang hilang. Semua melaksanakan shalat dengan khusuk,” ujar
Jerry, yang pernah selama 2,5 tahun menjadi wartawan di sebuah TV swasta di
Indonesia itu.
Ia menjadi bingung sekaligus takjub. Setelahnya kesadaran
untuk mengenal ajaran Islam langsung tak tertahankan. Ia melihat cahaya iman
justru setelah melihat orang-orang melaksanakan Shalat.
Jerry mengaku
ketika pertama kali memegang kitab suci Al Qur`an badannya langsung merinding,
ketika akan membaca hatinya bergetar dan sejurus kemudian suara tangis
mengiringinya membaca terpatah-patah ayat Al Qur`an.
Setelah hatinya
merasa mantap ia kemudian memilih menjadi mualaf di Arab Saudi. Keislamannya
belum serta merta jadi mantap. Ia pertama kali hanya melaksanakan shalat dua
kali dalam seminggu. Berikut adalah penuturannya ketika ia masuk
Islam.
“Ketika tertimpa musibah saya bawa shalat, ternyata saya dapatkan
ketenangan dan musibah hilang. Setelah itu saya makin rajin shalat,” ujar Jerry
yang kini berisitrikan wanita asal Tasikmalaya Jabar itu.
Kini dalam
kesehariannya, Jerry seringkali dimintai pandangan-pandangannya tentang Islam,
demokrasi, dan terorisme. “Islam itu agama rahmatan lil alamin dan orang Islam
bukanlah teroris,” ujar ayah satu anak itu.
Bagi mantan wartawan CNBC
itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam terbesar di dunia merupakan
surga yang ada di dunia. Ia pun kini tengah mengurus naturalisasi dengan menjadi
WNI sebagai ranah perjuangannya terhadap Islam. Berikut adalah penuturannya
ketika masuk Islam, yang banyak tersebar di berbagai media.
“Saya tidak
pernah bertemu Muslim, mendengar suara adzan atau pun melihat masjid. Meskipun
demikian saya berkeyakinan bahwa Yesus bukan anak Tuhan. Pada usia 12 tahun saya
sudah berpikir tentang Tuhan. Umur 14, sudah mulai malas ke gereja.
Saya
malas pergi ke sana karena tempat itu tidak dapat menghilangkan dahaga saya
tentang Tuhan. Saya bosan setiap kali datang selalu disuguhi dengan banyak
ucapan haleluya. Padahal yang saya butuhkan adalah pencerahan siapa itu Tuhan
dan kejelasan misi hidup saya di dunia ini untuk apa.
Saya percaya adanya
Tuhan dan mau masuk surganya Tuhan. Tapi dari agama ini saya mencium something
wrong karena saya harus meyakini Yesus sebagai anak Tuhan. Untung saja nenek di
rumah sering banyak cerita tentang Tuhan, sehingga saya lebih suka mendengarkan
nenek. Selama saya belajar agama kepadanya, ia tidak pernah bilang bahwa Yesus
adalah anak Tuhan. Namun sebaliknya, di gereja saya selalu disalahkan, karena
tidak mau mengakui Yesus sebagai anak Tuhan.
Kalau Yesus menjadi anak
Tuhan, mengapa Musa, Ibrahim dan Adam tidak menjadi anak Tuhan? Padahal, kalau
mau, justru Adamlah yang paling berhak menjadi anak Tuhan karena dia tidak punya
ibu dan bapak. Keyakinan saya bertambah setelah membaca kisah Musa yang memaksa
ingin melihat Tuhan. Musa akhirnya dibolehkan melihat sedikit cahaya Tuhan dari
gunung granit yang sangat gelap. Baru saja merefleksikan sedikit cahaya Tuhan,
langsung gunung itu goyang-goyang dan sangat menyilaukan, Musa pun pingsan.
Berdasarkan kisah itu, kalau benar Yesus anak Tuhan, pasti orang yang melihat
Yesus bakal mati atau pingsan. Ini kan tidak, berarti Yesus bukanlah anak
Tuhan.
Saya selalu berdoa agar saya diberi petunjuk yang benar tentang
Tuhan. Usai mengikuti wajib militer di angkatan udara, saya ditawari menjadi
maintenance pesawat pribadi Raja Fadh di Jeddah, Arab Saudi. Saya tolak karena
saya takut dibunuh orang Islam. Lebih baik saya menganggur.
Saya tinggal
di dalam mobil di ujung satu dermaga di Hawaii. Setiap hari mancing. Bila dapat
ikan, saya makan, bila tidak saya kelaparan. Paling hanya minum dari kran air
putih yang ada di situ. Enam bulan begitu terus. Pernah tiga hari
berturut-turut saya tidak makan sama sekali, hanya minum saja karena tidak dapat
ikan. Tapi saya tidak mau bunuh diri. Saya menangis, memohon, agar Tuhan
memberikan jalan keluar.
Namun tawaran tersebut datang lagi. Saya mengira
Tuhan telah marah kepada saya. Karena saya tidak mendapatkan pekerjaan lain,
malah disuruh ke Arab. Akhirnya teman memberikan saran kepada saya untuk
menerima tawaran itu. Saya pun berangkat ke sana.
Di Jeddah saya melihat
kejadian-kejadian yang sangat luar biasa, yang sangat berbeda dengan bayangan
saya sebelumnya. Ternyata orang Islam begitu taat kepada Tuhannya dan baik
kepada saya. Ketika mendengar adzan mereka langsung meninggalkan aktivitasnya
untuk segera shalat.
Begitu juga ketika saya ke toko emas. Saya dengar
adzan. Pintu toko emas terbuka. Padahal di toko tersebut tidak ada orang. Siapa
pun yang berniat mencuri emas, akan sangat mudah mengambilnya. Tapi kok ini
dibiarkan, Saya berdiri saja di depan toko itu menunggu penjual emas muncul.
Setelah adzan, jalanan mendadak sepi dari lalu lalang manusia. Penjaga keamanan
tidak ada. Paling sekali-kali saya melihat polisi menegur beberapa orang yang
sedang lewat untuk segera shalat.
Tak lama kemudian, pemilik toko itu
datang dan berkata “Mengapa tidak masuk?” Saya jawab, “Tidak mau”. “Kenapa tidak
mau?” tanyanya. “Saya takut disangka maling, nanti tangan saya dipotong,” jawab
saya karena setahu saya orang yang mencuri tangannya akan dipotong. Biasanya
orang bule yang datang ke Jeddah diundang untuk menyaksikan pemotongan tangan
bagi pencuri setiap Jum’at siang.
“Masuk saja, karena semua ini adalah
Allah yang punya, bukan punya saya,” kata pemilik toko itu. “Apa pun, kamu
perlu, ambil! Mungkin kamu lebih membutuhkan itu daripada saya?” lanjutnya. Ia
mengatakan bahwa semua itu milik Allah dan akan kembali kepada
Allah.
Saya terharu dan mau menangis mendengar ucapan yang tulus itu.
Saya sangat ingin punya iman seperti itu. Dengar adzan dia shalat. Orang mau
mengambil atau tidak mengambil hartanya, dia tidak ada masalah, yang penting
ketika Allah menyuruh shalat dia berangkat shalat dan semua hartanya itu dia
pasrahkan kepada Allah.
Peristiwa itu membuat saya jadi tertarik untuk
mengetahui agama Islam lebih lanjut. Saya jadi banyak diskusi tentang Islam.
Termasuk dengan Ahmad, salah seorang anggota Angkatan Udara Arab Saudi. Saya
diberinya Alquran dengan terjemah bahasa Inggris.
Ia tunjukkan ayat yang
menyatakan Isa anak Maryam adalah hamba dan utusan Allah, bukan anak Allah.
Ahmad menyebut Isa itu adalah nama lain dari Yesus, sedangkan Maryam sebutan
lain dari Bunda Maria. Kurang lebih tiga ayat saya baca. Saya tidak kuat lagi
meneruskan membacanya, karena saya mau menangis. Saya tidak mau menangis di
depan orang. Saya sangat yakin, inilah jawaban dari Tuhan. Rupanya saya disuruh
ke Jeddah itu bukan karena Tuhan marah, tapi karena Tuhan mengabulkan doa
saya.
Kemudian teman Ahmad yang bernama Rosyid, datang ke rumah. Dia
memberi tahu bahwa di salah satu masjid di Jeddah malam itu dimulai lagi sekolah
Islam yang menggunakan bahasa Inggris. “Kalau kamu ingin tahu lebih banyak
tentang Islam datanglah ke masjid tersebut, nanti saya antar,” kata Rosyid. Di
sekolah itu terjadilah diskusi. Hati saya berdecak kagum. Luar biasa, pintar
sekali guru ini. Semua yang dia katakan masuk akal. Argumennya begitu
spiritually and lightening.
Dia mengatakan bahwa Tuhan itu satu bukan
tiga, semua adalah ciptaan Tuhan dan bergantung kepada Tuhan. Tuhan tidak
beranak tidak pula punya orangtua. Tidak ada yang dapat menyerupai Tuhan. Serta
manusia hidup di dunia ini untuk mengabdi kepada Tuhan saja. Belum satu jam pun
diskusi, sebenarnya hati saya sudah menerima Islam. Hanya saja saya belum mau
menyatakan pada guru.
Malam itu saya tidak bisa tidur. Terus merenungkan
ucapan guru. Akhirnya di hari ketiga saya putuskan masuk Islam. Saya ucapkan dua
kalimat syahadat. Setelah itu guru berdiri dan cium pipi kanan kiri saya. Guru
mengajak semua orang yang ada di situ antri untuk mencium saya. Saya kaget
mendapat perlakuan itu. Kemudian saya mengerti bahwa itu adalah ungkapan senang
luar biasa dari sesama Muslim.” [sumber: vortespreet]
Ini sumbernya kawan :D
Sekian dulu yaa semoga menikmati heheeh kayak makanan aja :D
Wassalamualaikum,